Trip ke Arab Saudi untuk Pemula
Lele Nyasar
travel

Trip ke Arab Saudi untuk Pemula

Trip ke Arab Saudi untuk Pemula

Trip ke Arab Saudi untuk Pemula

Riyadh, Jeddah, dan Mekkah memang terdengar seperti tiga titik di peta yang terpisah jauh, namun bagi banyak orang Indonesia, ketiganya kini menjadi tujuan liburan yang tak lagi asing. Saya pertama kali menjejakkan kaki di tanah Arab Saudi pada musim panas 2022, dan sejak saat itu rasa ingin tahu tentang budaya, sejarah, serta kuliner di sana tidak pernah padam. Bagi yang belum pernah ke sana, ada banyak hal yang perlu dipersiapkan—mulai dari visa sampai cara menyesuaikan pakaian dengan iklim. Berikut rangkaian cerita dan catatan praktis yang saya kumpulkan selama perjalanan, semoga membantu kamu yang ingin memulai petualangan pertama ke Arab Saudi.

Persiapan Visa dan Dokumen

Visa turis Saudi kini bisa diurus secara online lewat eVisa atau aplikasi Absher. Prosesnya relatif cepat; biasanya dalam 48 jam setelah mengunggah paspor, foto, dan bukti pemesanan tiket. Pastikan paspor masih berlaku minimal enam bulan ke depan—ini bukan sekadar formalitas, melainkan syarat yang paling sering ditolak saat pemeriksaan di bandara.

Sebelum mengirimkan aplikasi, periksa kembali data yang dimasukkan. Kesalahan kecil pada tanggal lahir atau nomor paspor dapat memperpanjang proses hingga minggu berikutnya. Saya pernah melihat teman harus mengulang aplikasi karena menulis nama dengan huruf kapital semua, padahal sistem mengharuskan format Nama Depan Nama Belakang.

Setelah visa disetujui, cetak salinan elektronik dan simpan dalam format PDF di ponsel. Beberapa petugas imigrasi masih meminta bukti cetak, jadi ada baiknya membawa satu lembar hardcopy. Jangan lupa bawa kartu identitas nasional, tiket pulang-pergi, dan asuransi perjalanan yang mencakup perawatan medis di luar negeri.

Mengenal Budaya dan Etika Lokal

Arab Saudi sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Islam, dan kebiasaan sehari-hari mencerminkan itu. Di tempat umum, terutama di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, bersikap tenang dan menutup diri dengan pakaian yang sopan bukan pilihan, melainkan keharusan. Bagi pria, celana panjang dan kaos berlengan panjang sudah cukup; wanita disarankan memakai abaya (jubah panjang hitam) dan menutupi rambut dengan hijab. Di hotel atau area wisata yang lebih sekuler, pakaian Barat biasanya diterima, namun tetap hindari celana pendek atau atasan berlekuk rendah.

Berinteraksi dengan penduduk lokal pun memerlukan kepekaan. Salam “Assalamu’alaikum” selalu menjadi pembuka yang baik, dan mereka biasanya menjawab “Wa’alaikum salam”. Saat mengunjungi pasar tradisional (souq), tawar-menawar adalah bagian dari pengalaman—jangan takut menawar, namun lakukan dengan sopan. Mengangkat suara atau bersikap agresif dapat membuat suasana tidak nyaman.

Ramadan adalah bulan suci yang berlangsung selama sebulan penuh. Jika perjalananmu bertepatan dengan Ramadan, perhatikan jam berbuka puasa (iftar). Banyak restoran menutup pada siang hari, namun di hotel dan beberapa kafe internasional biasanya tetap buka. Menghormati waktu puasa dengan tidak makan atau minum di tempat umum selama siang hari akan membuat kamu diterima lebih baik oleh masyarakat.

Transportasi di Tanah Suci

Sesampainya di Riyadh, pilihan transportasi paling fleksibel adalah taxi online seperti Careem atau Uber. Kedua layanan ini sudah terintegrasi dengan sistem pembayaran lokal, jadi kamu tak perlu repot menukar uang tunai. Saya biasanya memesan lewat aplikasi, mengingat tarif yang transparan dan driver yang familiar dengan rute wisata.

Jika ingin menjelajah lebih jauh, kereta api menjadi pilihan nyaman. Saudi Arabian Railway (SAR) menghubungkan Riyadh, Jeddah, dan Makkah dengan kecepatan hingga 200 km/jam. Tiket dapat dipesan lewat situs resmi SAR, dan ada opsi kelas ekonomi yang masih cukup lega. Saya suka memesan kursi di dekat jendela; pemandangan gurun pasir yang bergulir memberikan sensasi berbeda dibandingkan mengemudi.

Untuk jarak pendek di dalam kota, bus kota beroperasi dengan jadwal yang teratur. Di Jeddah, ada layanan Jeddah Bus yang melayani rute utama dengan tarif terjangkau. Namun, bus cenderung penuh pada jam sibuk, jadi siapkan diri untuk berdiri sebentar. Bagi yang suka kebebasan, menyewa mobil (biasanya Toyota atau Nissan) lewat agen lokal memberi fleksibilitas mengatur waktu kunjungan ke tempat-tempat di luar pusat kota, seperti Al‑Ula atau Edge of the World.

Rencana Perjalanan: Dari Riyadh ke Mekkah

Berikut contoh itinerary selama 10 hari yang cukup ideal untuk pemula. Saya memulai dari Riyadh karena penerbangan internasional paling sering tiba di sana.

Hari 1‑2: Riyadh
Setelah tiba, gunakan hari pertama untuk menyesuaikan diri dengan zona waktu (GMT+3). Kunjungi Masmak Fort, sebuah benteng bersejarah yang terletak di tengah kota. Saya suka berjalan-jalan di sekitar al‑Mansourah, menikmati kopi Arab di kedai kecil yang terletak di gang sempit. Pada sore hari, naik ke Kingdom Centre Sky Bridge untuk melihat panorama kota yang bersinar di malam hari.

Hari 3‑4: Jeddah
Terbang domestik ke Jeddah (penerbangan sekitar satu setengah jam). Di kota pelabuhan ini, Al‑Balad (kota tua) menjadi titik pertama. Jalanan berbatu, rumah-rumah berwarna pastel, serta pasar rempah mengundang rasa ingin tahu. Jangan lewatkan Corniche—jalan tepi laut yang dilengkapi taman bermain, galeri seni, dan tempat duduk yang menghadap ke Laut Merah. Malam pertama saya menyantap ikan bakar di restoran tepi pantai, dengan aroma asap yang menguar di udara sejuk.

Hari 5‑6: Mekkah
Naik bus atau kereta ke Mekkah (sekitar tiga jam perjalanan). Bagi pemula yang belum pernah menunaikan Umrah, persiapan mental dan fisik sangat penting. Saya menghabiskan malam pertama di hotel dekat Masjid al‑Harām, sehingga mudah bangun untuk sholat subuh. Proses tawaf (keliling Ka’bah) terasa lebih tenang ketika kamu sudah familiar dengan tata cara dasar—cukup ikuti alur yang ditandai oleh lampu berwarna di lantai.

Hari 7‑8: Madinah
Pindah ke Madinah dengan kereta cepat (Haramain Railway). Di sini, Masjid Nabawi menjadi pusat aktivitas. Saya menyempatkan diri untuk berkeliling Jannat al‑Baqi, makam para sahabat, dan mencicipi kebab Madinah yang terkenal di warung lokal. Karena suasana lebih tenang dibanding Mekkah, saya dapat menikmati sore di taman Al‑Riyadh, tempat yang ideal untuk bersantai setelah ibadah.

Hari 9‑10: Kembali ke Riyadh & Pulang
Naik kereta kembali ke Riyadh, gunakan hari terakhir untuk membeli oleh-oleh di Souq Al‑Thumairi—bisa menemukan kurma, parfum oud, dan kerajinan kulit. Sore hari, persiapkan koper, pastikan semua dokumen lengkap, dan berangkat ke bandara untuk penerbangan pulang.

Itinerary ini fleksibel; kamu bisa menambah atau mengurangi hari di setiap kota tergantung minat. Yang penting, jangan memaksa diri menjejalkan terlalu banyak aktivitas—Arab Saudi memiliki ritme yang lebih santai, terutama selama bulan puasa.

Akomodasi yang Nyaman untuk Pemula

Bagi traveler pertama kali, menginap di hotel berstandar 3‑4 bintang memberi keseimbangan antara harga dan kenyamanan. Di Riyadh, Al Faisaliah Hotel menawarkan kamar dengan pemandangan menara, Wi‑Fi stabil, dan sarapan lokal yang lengkap. Di Jeddah, Jeddah Hilton dekat Corniche, sehingga kamu bisa berjalan kaki ke pantai saat matahari terbenam.

Jika menginap dekat Masjid al‑Harām, pilih hotel dengan proximity rating tinggi. Saya menginap di Makkah Clock Royal Tower, di mana lift langsung mengantar tamu ke lantai teratas Masjid. Fasilitas seperti kolam renang dan ruang sholat dalam hotel membuat jadwal ibadah lebih teratur.

Untuk budget lebih ketat, apartemen serviced atau Airbnb yang terdaftar resmi juga menjadi alternatif. Pastikan akomodasi memiliki AC—suhu siang hari di padang pasir dapat melambung hingga 45°C, dan kelembaban rendah membuat ruangan terasa lebih panas. Pilih kamar yang memiliki kunci digital dan layanan kebersihan harian, karena kebersihan menjadi faktor utama kenyamanan di negara dengan standar kebersihan tinggi.

Makanan dan Kuliner yang Wajib Dicoba

Arab Saudi bukan hanya tentang guratan sejarah, melainkan juga kelezatan kuliner yang jarang ditemukan di tempat lain. Di pasar tradisional Riyadh, kabsa (nasi berbumbu dengan daging kambing) menjadi menu utama. Aroma kayu manis, cengkeh, dan kapulaga mengisi udara, sementara potongan daging yang empuk meleleh di mulut.

Jeddah dikenal dengan samak harra (ikan pedas) yang disajikan di restoran tepi laut. Saya menemukan satu warung kecil di Al‑Balad yang menyajikan ikan dengan sambal tomat yang pekat, dipadukan dengan roti pita hangat. Rasa pedasnya seimbang, tidak mengalahkan rasa gurih ikan.

Di Madinah, shawarma dengan daging ayam atau domba yang dipanggang perlahan di atas rotisserie menjadi camilan favorit setelah sholat. Tambahkan hummus dan tabbouleh, dan kamu sudah memiliki hidangan lengkap ala Timur Tengah. Jangan lupakan kebab—biasanya disajikan bersama nasi atau roti flatbread, dan disertai saus yoghurt mint yang menyegarkan.

Jika kamu suka manis, coba dates (kurma) yang ditanam di wilayah Najd. Saya membeli kurma jenis Ajwa di Jeddah, yang terkenal dengan tekstur lembut dan rasa karamel alami. Selain dimakan langsung, kurma juga menjadi bahan dasar qahwa Saudi, kopi Arab yang disajikan dengan kapur sirih.

Packing List yang Praktis

Berikut barang-barang yang saya bawa, disusun berdasarkan keperluan di tanah Arab Saudi. Tidak perlu membawa segala sesuatu, cukup fokus pada esensial yang akan membuat perjalanan lebih nyaman.

  • Pakaian: Celana panjang katun atau linen, kaos lengan panjang, abaya (bisa dibeli di bandara), hijab (bisa lipat ringan), sandal tertutup, sepatu walking yang nyaman. Bawa satu atau dua set pakaian dalam berbahan breathable, karena suhu tinggi dapat membuat pakaian cepat lembab.
  • Alat elektronik: Smartphone, powerbank (kapasitas minimal 10.000 mAh), adaptor listrik tipe G (Saudi menggunakan colokan tiga pin). Jika ingin mengakses peta offline, unduh aplikasi Maps.me sebelum berangkat.
  • Kesehatan: Sunblock SPF 50, obat anti‑malaria (meskipun tidak wajib, tapi berguna bila kamu berencana ke daerah pedalaman), obat anti‑diare, dan botol air tahan panas. Saya menyimpan satu kantong kecil hand sanitizer untuk kebersihan tangan di tempat umum.
  • Dokumen: Paspor, e‑visa, tiket pesawat, asuransi perjalanan, dan salinan kontrak hotel. Simpan semua dalam satu dompet travel yang tahan air.
  • Keuangan: Kartu kredit internasional (Visa atau Mastercard) dan uang tunai dalam Riyal Saudi (SAR). Di kota besar, ATM menerima kartu internasional, namun di daerah terpencil kadang hanya menerima uang tunai.
  • Miscellaneous: Senter mini, buku bacaan ringan (untuk menunggu boarding), dan tas kecil anti‑maling untuk keperluan harian.

Jika kamu bepergian di bulan Ramadan, tambahkan masker (bisa dipakai saat berbuka di tempat umum) dan obat sakit kepala karena perubahan pola makan dapat memicu migrain.

Tips Hemat dan Keamanan

  • Transportasi umum: Gunakan Kereta Haramain untuk rute Riyadh‑Jeddah‑Mekkah‑Madinah. Tiket kelas ekonomi cukup murah, dan kamu bisa menikmati pemandangan gurun dari jendela. Di dalam kereta, ada ruang ibadah yang nyaman.
  • Makan di luar: Hindari restoran di area turis yang biasanya lebih mahal. Cari warung lokal yang terlihat ramai penduduk setempat; kualitas makanan tetap terjaga, dan harga jauh lebih bersahabat.
  • Koneksi internet: Beli SIM card lokal (STC atau Mobily) di bandara. Paket data harian cukup murah, dan sinyal kuat hampir di seluruh wilayah. Saya biasanya mengaktifkan paket 5 GB selama seminggu.
  • Keamanan pribadi: Arab Saudi relatif aman, namun tetap perhatikan barang berharga. Gunakan tas anti‑maling dengan ritsleting tersembunyi, dan hindari menunjukkan uang dalam jumlah besar di tempat umum.
  • Penggunaan ATM: Pilih mesin yang berada di dalam bank atau pusat perbelanjaan. Hindari ATM di pinggir jalan, karena ada risiko pencurian data kartu.
  • Kebersihan: Selalu bawa tisu basah atau hand sanitizer. Di tempat umum seperti masjid atau pasar, toilet tidak selalu dilengkapi dengan sabun, jadi persiapan ekstra sangat membantu.

Kembali ke Indonesia, saya masih ingat aroma rempah yang menguar dari pasar Riyadh, suara panggilan azan yang menggema di pagi hari, serta rasa manis kurma yang mengisi sela-sela ibadah. Trip ke Arab Saudi memang menuntut persiapan ekstra, terutama soal visa, pakaian, dan etika, namun pengalaman yang didapatkan jauh melampaui tantangan logistik.

Jika kamu masih ragu, mulailah dengan satu kota—misalnya Riyadh atau Jeddah—lalu tambahkan destinasi lain di perjalanan berikutnya. Setiap langkah kecil di tanah Arab Saudi membuka lembaran baru tentang sejarah, budaya, dan rasa persaudaraan yang tak terduga. Selamat merencanakan, dan semoga perjalanan pertamamu menjadi kenangan yang tak lekang oleh waktu.

Image source: Pexels (https://www.pexels.com/@hakam-magdea-2151202916)


Perjalanan Anda belum berakhir di sini. Temukan juga berbagai inspirasi wisata dan hiburan menarik lainnya untuk mengisi waktu santai Anda.

← Kembali ke Beranda