Trip ke Hungaria untuk Pemula
Lele Nyasar
travel

Trip ke Hungaria untuk Pemula

Trip ke Hungaria untuk Pemula

Trip ke Hungaria untuk Pemula

Budapest duluan masuk daftar “must‑visit” di Eropa, tapi banyak yang masih bingung harus mulai dari mana. Saya pertama kali menginjakkan kaki di Budapest pada musim semi 2022, dan dari detik itu saya sadar kalau negara kecil ini menyimpan sejuta cerita—dari arsitektur Art Nouveau yang megah, hingga kafe-kafe pinggir sungai yang jadi saksi obrolan tak berujung. Berikut rangkaian pengalaman saya yang bisa jadi peta sederhana bagi yang belum pernah ke Hungaria sama sekali.

Persiapan Dokumen dan Visa

Kalau kamu berangkat dari Indonesia, visa Schengen tetap jadi syarat utama. Formulir online (EU Visa Application) harus diisi rapi, lampirkan paspor yang masih berlaku minimal tiga bulan ke depan, foto 35 × 45 mm, serta bukti akomodasi dan tiket pulang. Saya pakai agen travel yang membantu mengurus appointment di Kedutaan di Jakarta; prosesnya biasanya memakan waktu 10–15 hari kerja, jadi catat kalender jauh sebelum tanggal keberangkatan.

Setelah visa terbit, jangan lupa cetak konfirmasi asuransi perjalanan. Di Hungaria, sistem kesehatan publik memang bagus, tapi asuransi tetap diperlukan bila ingin mengakses layanan medis tanpa repot. Pilih paket yang mencakup evakuasi darurat dan perawatan di rumah sakit internasional.

Memilih Penginapan yang Pas

Budapest terbagi jadi tiga zona utama: Buda (bukit, kastil), Pest (pusat kota, kehidupan malam), dan area pinggiran yang lebih tenang. Untuk pertama kali, saya pilih hostel di distrik VII (Jewish Quarter). Lokasinya strategis—hampir 5 menit jalan kaki ke jalan Váci, banyak bar, dan terhubung langsung dengan tram 4/6. Kamar bersih, dapur bersama, dan Wi‑Fi yang stabil.

Kalau budget memungkinkan, apartemen Airbnb di sekitar distrik VIII (Buda) memberi nuansa “rumah” dengan pemandangan sungai Danube di pagi hari. Pastikan ada akses mudah ke stasiun metro M2 (garis merah) karena itu jalur utama ke pusat wisata.

Transportasi di Negeri Danube

Sistem transportasi publik di Budapest begitu terintegrasi, sehingga satu kartu (Budapest Card atau travel card 72 jam) bisa membuka semua tram, bus, dan kereta bawah tanah. Saya beli tiket elektronik lewat aplikasi BKK, tinggal scan QR di gerbang masuk. Harga 72 jam sekitar 4.500 HUF (≈ 30 ribuan rupiah), jauh lebih murah dibandingkan beli tiket satuan.

Jika ingin menjelajah ke luar kota—misalnya ke Danube Bend (Szentendre, Visegrád) atau kota bersejarah Eger—kereta api regional (MÁV) menjadi pilihan. Tiket dapat dibeli di loket atau mesin tiket otomatis, dan biasanya ada diskon untuk pemegang Budapest Card.

Tak lengkap rasanya kalau tidak mencicipi kereta gantung ke Gunung Gellért. Naikannya hanya 10 menit, namun pemandangan kota dari ketinggian membuat otot kaki lelah terbayar lunas.

Rencana Perjalanan 5 Hari

Hari 1 – Menyusuri “Pearl of the Danube”

Mulai pagi dengan sarapan di kafe New York Café, tempat yang diklaim sebagai kafe tertua di Budapest. Setelah itu, jalan kaki ke Jembatan Rantai (Széchenyi Lánchíd) untuk foto klasik dengan latar kastil Buda. Di sisi Pest, kunjungi Parlemen Hungaria; tiket masuk harus dipesan dulu lewat web resmi. Sore hari, santai di Kolam Széchenyi—salah satu spa outdoor terbesar di Eropa. Air panasnya masih hangat meski cuaca mulai dingin, dan pemandangan lampu kota menambah kesan romantis.

Hari 2 – Sejarah dan Seni di Buda

Naik funikular ke Kastil Buda, lalu melangkah ke Museum Sejarah Budapest (Budapesti Történeti Múzeum). Koleksi artefak zaman Romawi sampai era komunis memberi gambaran lengkap tentang identitas Hungaria. Setelah itu, singgah di Gereja Matthias (Matthias Church) dan menara Fisherman’s Bastion untuk panorama Danube yang ikonik. Malamnya, jelajahi jalanan kecil di distrik Castle Hill, banyak bar kecil dengan bir lokal—porsinya 600 HUF per gelas.

Hari 3 – Menyusuri Danube Bend

Ambil kereta pagi ke Szentendre, desa seni yang dipenuhi galeri kecil dan toko kerajinan. Jalan-jalan di antara rumah kayu warna pastel, lalu naik perahu cepat (HÉV) ke Visegrád. Di sana, kastil kuno berdiri di tepi sungai, cocok buat foto sunset. Kembali ke Budapest lewat kereta malam, gunakan waktu untuk menikmati suasana kereta yang tenang.

Hari 4 – Kuliner dan Pasar Lokal

Mulai hari di Central Market Hall (Nagycsarnok). Di lantai atas, ada kios-kios yang menjual paprika, sosis, dan lángos—gorengan tepung yang ditaburi keju atau krim asam. Coba lángos dengan topping keju dan bawang, rasanya simpel tapi memuaskan. Siang harinya, ikuti tur jalan kaki gratis (free walking tour) di sekitar distrik VII; pemandu biasanya menerima tip di akhir tur. Sore, naik tram ke area Gellért untuk menikmati sunset di teras kafe dengan view Sungai Danube.

Hari 5 – Relaksasi dan Kenangan Terakhir

Tidak lengkap tanpa “thermal bath” terakhir. Saya pilih Gellért Baths, karena arsitekurnya Art Nouveau lebih tenang dibandingkan Széchenyi yang selalu ramai. Setelah berendam, mampir ke toko souvenir di Váci Street untuk beli paprika merah kering sebagai oleh‑oleh. Malam terakhir, nikmati dinner di restoran tradisional “Menza”—coba goulash dengan supkrim paprika, dan jangan lupa mencicipi “kürtőskalács” (kue silinder bakar) yang manis di luar, lembut di dalam.

Makanan dan Minuman yang Wajib Dicoba

  • Goulash: sup daging berkuah merah pekat, biasanya disajikan dengan roti kering.
  • Lángos: adonan goreng tebal, ditaburi keju, bawang, atau krim asam.
  • Paprika: bumbu merah yang menjadi kebanggaan nasional, coba di pasar atau restoran.
  • Tokaji: anggur putih manis dari wilayah Tokaj, cocok sebagai digestif setelah makan.
  • Unicum: likör herbal berwarna merah gelap, sering dijadikan “digestif” setelah makan berat.

Jika tidak terbiasa dengan rasa pedas, mintalah “mild” pada menu, karena paprika Hungaria kadang cukup kuat.

Tips Praktis Selama di Jalan

  • Uang tunai: Meskipun banyak tempat menerima kartu, pasar tradisional dan kafe kecil kadang hanya menerima cash. Tukar sebagian uang di bandara atau gunakan ATM (biasanya 1 % biaya transaksi).
  • Bahasa: Bahasa Inggris cukup dipahami di kawasan turis, namun belajar beberapa frasa dasar (misal “Köszönöm” = terima kasih, “Viszontlátásra” = sampai jumpa) membuat penduduk lokal tersenyum.
  • Wi‑Fi: Kebanyakan kafe dan hotel menyediakan Wi‑Fi gratis, tapi sinyal kadang lemah di area pinggiran. Beli kartu SIM lokal (e.g., Telenor, Vodafone) dengan paket data 5 GB seharga 4 000 HUF; aktivasi biasanya otomatis.
  • Transportasi malam: Tram 1 beroperasi 24 jam, cocok kalau pulang larut setelah menikmati bar di Pest. Jangan lupa cek jadwal terakhir di aplikasi BKK.
  • Keamanan: Hungaria relatif aman, namun waspada di area keramaian seperti Central Market Hall; tas ransel harus selalu di depan dada.
  • Pakaian: Musim semi dan gugur bisa berubah-ubah suhu (10‑20 °C). Bawa jaket ringan, payung lipat, dan sepatu nyaman untuk jalan kaki di batu berbatu.
  • Kebersihan: Toilet umum di Budapest biasanya berbayar (sekitar 100 HUF). Simpan koin kecil untuk keperluan ini.

Penutup

Tidak ada yang lebih memuaskan daripada menapaki jalan berbatu di Castle Hill sambil mendengar alunan musik jalanan, atau merasakan kehangatan air termal setelah seharian berjalan menelusuri sejarah. Hungaria memang kecil, tapi tiap sudutnya menyimpan cerita yang siap dibagikan. Semoga rangkaian pengalaman ini membantu kamu yang baru pertama kali menyiapkan koper menuju negara “Pearl of the Danube”. Selamat menjelajah, dan jangan lupa bawa pulang sejumput paprika untuk mengingat rasa petualangan!

Image source: Pexels (https://www.pexels.com/@valeriiamiller)


Perjalanan Anda belum berakhir di sini. Temukan juga berbagai inspirasi wisata dan hiburan menarik lainnya untuk mengisi waktu santai Anda.

← Kembali ke Beranda